Selasa, 28 Juli 2020

TITIK TERANG DI TENGAH BADAI COVID-19


TITIK TERANG DI TENGAH BADAI COVID-19
Oleh : Siti Fiadina Wahida
(Juara 1 Lomba Essay Bidikmisi Berkreasi)

Sekarang, saat kita melihat berita di tv, membuka social media, dan saat orang bercerita, yang kita dengar adalah penambahan kasus covid-19 secara cepat, membuat kepanikan dan kerugian, berita ini selalu menjadi tranding topik yang menarik mengalahkan berita drama dari selebriti tanah air. Dan setelah 7 bulan kedatangan virus ini dinobatkan menjadi pandemik di seluruh dunia.
Pandemik covid-19, merupakan wabah yang ditemukan pertama kali di Hubei, kota Wuhan China pada bulan desember 2019. Namanya singkatan dari corona virus disease-19 yang ditetapkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia), untuk menghindari referensi lokasi geografis tertentu, seperti hewan atau kelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional, dalam pencegahan stigma. Peryataan ini dicetuskan oleh dr.tedras Adhanam Ghebreyethor perwakilan dari WHO.
Pada hari jumat tanggal 17/07/2020 dunia telah mencatat keganasan virus corona dengan jumlah 14,1 juta jiwa diseluruh dunia, dan pada hari sabtu tanggal 18/07/2020 di Indonesia mencapai 84,882 kasus dengan kematian 4.016 jiwa, informasi dilansir dari kompas.com. Jadi sangat disayangkan jika generasi yang lebih muda terutama mahasiswa, apatis terhadap situasi ini, hanya berasumsi bahwa ini penyakit flu biasa, atau hanya mengeluh dengan tugas kuliah di dalam kamar, tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
Banyak sekali dampak yang di bawa oleh covid-19, dari kelangkaan masker dan handsinitizer di awal bulan, panic buying membuat harga melambung, dan yang paling parah adalah bencana PHK (pemutusan hubungan kerja) secara besar-besaran, serta ketidak tentuan dalam bekerja menciptakan pengangguran baru serta merubah tatanan kehidupan. Di awal kasus, 2 WNI terjangkit virus ini, membuat nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp14.240,00 per dolar As, semua konser musik dunia dibatalkan, dari Adele, Justin Bieber, maroon5, Bts dan selebriti papan atas lainya, yang menyebabkan kerugian jutaan dolar. Semua kompetisi olahraga ditunda dari olimpiade hingga liga seri a, semua pabrik dan perkantoran dipaksa tutup untuk mencegah pertumbuhan kasus baru. Dunia sedang tidak baik-baik saja, mahasiswa segeralah bangkit dari zona nyaman, keluarkan pemikran yang inovatif untuk membantu masyarakat. Karena kehidupan baru dimulai sejak kasus pertama tercatat.
Generasi milenial memiliki kreatifitas tanpa batas dan mampu menciptakan sebuah perubahan. Seoarang pemuda yang berpendidikan atau nama lainya mahasiswa, adalah pelopor utama dalam sebuah perubahan dan kontrol sosial di masyarat, mengingatkan pada era revolusi yang digebrak oleh kaum mahasiswa, diantaranya Budi Oetomo, Gemsos, PMII, KAMI, HMI dan lainya, tidak hanya organisasi pemuda tapi pencapainya, seperti tuntutan tritura oleh mahsiswa, penurunan presiden Soeharto, penghapusan KKN (korupsi, kolusi, dan nepostisme) dan menjadikan peristiwa bersejarah ini tercatat di Indonesia.
Kemudian banyak pertanyaan yang terlintas, apa sousinya?.  Apa yang akan dilakukan pemuda dan bagaiman caranya?. Sudah siapkah kalian disebut sebagai mahasiswa! sang pencetus gebrakan baru yang diunggulkan dengan sebutan agent of change dan agent of social control.
Kita sedang mengahadapi babak baru, berperang dengan mahluk yang tak kasat mata, dan sedang berdiri ditengah medan tempur. Sebagai mahasiswa bidikimisi yang digadang-gadang menjadi aset negara dan menjadi pilar Indonesia dikemudian hari, serta mampu berkontribusi untuk masyarakat. Yakinlah kalian pasti bisa, percayalah dengan kemampuan dan usahamu, tunjukan karakter darah muda yang dapat mengguncang dunia. Seperti peryataan yang diucapkan oleh bapak prokalmator dalam pidatonya “beri saya 10 pemuda, maka aku akan guncangkan dunia”, ucapan ini bukan bualan belaka, banyak anak muda yang hebat yang berprestasi dan menginspirasi seperti Hannah Herbs diusia 17 tahun membuat pembakit listrik tenaga gelombang laut, Julian Rios Cantu diusia 18 tahun menemukan teknologi pendeteksi kanker payudara, serta di Indonesia ada Iman Usman dan Adama Belva Devara pendiri situs Ruang Guru untuk memajukan pendidikan dan masih masih banyak lagi anak muda yang membanggakan lainya.
Mahasiswa adalah agent of change karena memiliki trobosan baru yang inovatif dan memiliki visi yang kokoh untuk menunjukan bahwa perubahan tidak selamanya buruk, perubahan yang dimaksud adalah menjadikan tatanan masyarakat menjadi lebih baik. Di mulai dari diri sendiri sebagai pelaku yang ikut berperan aktif dalam segala situasi.
Mahasiswa juga merupakan agent of social control karena dapat menyaring informasi hoax yang tersebar secara cepat, dengan keahlianya menjadi digital natif, dapat mengakses informasi dengan lebih baik. Kemampuan beradapsi yang lebih cepat, menciptakan tatanan kehidupan baru dan megedukasi masyarakat tentang pandemik covid-19 yang melanda dunia. Mahasiswa bidikmisi tidak kenal rasa takut, bangkitlah dan suarakan dengan lantang selayaknya pasukan berbaju besi dengan gagahnya, bahwa wabah ini dapat  kita atasi. Jadilah garda terdepan yang peka terhadap perubahan, seperti membuat website untuk donasi korban yang terdampak, dan tenaga medis yang kekurangan APD (alat perlindunagn diri). Dari social media, banyak anak muda yang berkontribusi seperti dr. Tirta yang mengkampanyekan masyarakat lewat twitter, instagram ataupun youtube tentang pencegahan covid-19 dan mengatasi panik yang berlebihan. Serta ada Jang Hansol youtuber yang ikut berdonasi di web kitabisa.com sebanyak 50 juta serta mengajak subcribnya untuk berdonasi membantu penanganan wabah yang terjadi. Jadi banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk berperang, dengan kunci mulailah dari sekarang.
Menjadi relawan ditengah wabah dengan mengedukasi masyarakat, dimulai dari diri sendiri dengan disiplin kesehatan, mengajarkan keluarga dan tetangga. Janganlah bosan untuk selalu mengingatkan yang lebih tua jika mereka pelupa, dan mengajari anak-anak yang sulit memahami, ajaklah mereka hidup sehat dengan rajin mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak minimal 1 meter serta lebih baik dirumah saja.
Kami percaya bahwa banyak mahasiswa bidikmisi yang melebihi ekspektasi, menjadi teladan di masyarakat. Yakinlah kita bisa menjadi roda penggerak di masyarakat, tunjukan bahwa kamu adalah mahasiswa bidikmisi dan pemuda yang membanggakan. Serta ciptakanlah sebuah perubahan, untuk memberikan energy paling besar dalam tatanan masyarakat. Marilah menjadi generasi milenial yang berintelektual dan melek terhadap isu yang terjadi di dalam masyarkat,  bergeraklah dengan tepat dan cepat untuk pencegahan.  
Salam Mahasiswa, Salam Bidikmisi, Salam prestasi !
                                  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar